Salah Pilih Kampus, Dea Anggriani Justru Menjadi Lulusan Terbaik FIKES Unsulbar

33

Majene – Kisah inspiratif datang dari salah satu lulusan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Dea Anggriani, S.Kep., yang berhasil menorehkan prestasi sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3.99  di lingkungan FIKES Unsulbar.

Di balik prestasi gemilang tersebut, tersimpan cerita yang tak biasa. Dea merupakan putri asal Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Saat mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi, ia memilih Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) karena mengira singkatan tersebut merupakan Universitas Sumatera Barat.

Kesalahpahaman itu baru disadarinya setelah dinyatakan lulus. Dea mengaku sempat merasa kecewa karena harus merantau jauh hingga menyeberangi pulau menuju Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Namun, rasa kecewa tersebut perlahan berubah menjadi semangat untuk membuktikan bahwa ia mampu berprestasi di kampus pilihannya. Kisah ini turut dilansir oleh Unsulbar News.

Berbekal tekad, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan serta budaya lokal, Dea mampu menyelesaikan studinya dengan hasil yang membanggakan. Ia berhasil meraih predikat lulusan terbaik sekaligus lulusan tercepat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sulawesi Barat, menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berjuang meraih prestasi tanpa memandang berbagai keterbatasan.

Bagi Dea, perjalanan akademik di Unsulbar bukanlah akhir dari perjuangan. Ia memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister (S2) sebagai bekal untuk kembali mengabdi di almamater tercinta.

“Saya ingin melanjutkan pendidikan S2 agar suatu saat nanti dapat kembali mengabdi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sulawesi Barat,” ungkap Dea.

Dekan beserta seluruh sivitas akademika Fakultas Ilmu Kesehatan Unsulbar menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Dea Anggriani. Prestasi ini menjadi bukti bahwa FIKES Unsulbar mampu melahirkan lulusan yang unggul, berprestasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi dunia kesehatan dan pendidikan.

Semoga kisah Dea Anggriani menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk terus berusaha, pantang menyerah, dan percaya bahwa setiap perjalanan, meskipun diawali dengan sebuah ketidaksengajaan, dapat berakhir dengan prestasi yang membanggakan.